PHYSICS ARTICLE COMPETITION - PEKAN ILMIAH FISIKA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2022

NET ZERO EMISSIONS: PENGEMBANGAN TEKNOLOGI GREEN HYDROGEN PADA SEKTOR TRANSPORTASI INDONESIA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR FOSIL GUNA MEWUJUDKAN SDGs POIN KETUJUH

Shallu Fidhah Ariyanti  |  Universitas Negeri Jakarta

Pendahuluan

Konsumsi energi di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, dan harga energi. Konsumsi energi ini masih bergantung pada sumber daya alam (SDA) berupa fosil. Berdasarkan data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT), pada tahun 2019 tercatat bahwa sebesar 90,7% penyediaan energi primer nasional dipenuhi oleh batubara, minyak bumi, dan gas bumi. Sektor transportasi merupakan sektor pengguna energi terbesar dengan 90,9% kebutuhan energinya menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi hingga saat ini tergolong cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh teknologi transportasi yang berbasis listrik dan gas belum mampu menggantikan dominasi teknologi transportasi berbasis BBM.

Menurut data BPPT, cadangan energi fosil berupa minyak bumi di Indonesia terus menurun dari 5,9 miliar barel pada tahun 1995 menjadi 3,7 miliar barel pada akhir 2015. Dengan tingkat produksi minyak bumi saat ini, maka tidak akan ditemukan adanya cadangan minyak bumi baru. Sehingga cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 11 tahun kedepan. Indonesia akan menjadi negara net impor energi pada tahun 2031 untuk skenario dasar dan tahun 2030 untuk skenario tinggi. Hal ini mendorong tingginya ketergantungan Indonesia akan impor energi yang mencapai 44% pada tahun 2050 pada skenario dasar.

Isi

Impor BBM sudah berlangsung lama sebelum tahun 2015, dan impor gas bumi diprediksi akan menyusul mulai tahun 2025. Penggunaan BBM yang tinggi memberikan dampak buruk bagi lingkungan, karena hasil dari pembakaran hidrokarbon meningkatkan konsentrasi gas karbon dioksida. Menurut Greenstone & Fan (2019), telah terjadi peralihan status kondisi udara di Indonesia, yang semula termasuk dalam kategori negara dengan kondisi udara yang bersih menjadi salah satu dari 20% negara paling berpolusi; dengan peningkatan konsentrasi polutan mencapai 171%. Meningkatnya konsentrasi polutan gas dan gas-gas lain di atmosfer juga mengakibatkan peningkatan suhu pada permukaan bumi. Energi panas dari matahari yang masuk ke permukaan bumi akan terperangkap di atmosfer ketika dipantulkan sehingga mengakibatkan terjadinya emisi gas rumah kaca (Pratama, 2019).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat besar emisi gas rumah kaca pada sektor energi tahun 2017 adalah sebanyak 558,890 ton. Tingkat emisi gas rumah kaca yang signifikan dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut Sumampouw (2019), salah satu indikator telah terjadinya perubahan iklim yaitu adanya peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi atau disebut pemanasan global (global warming). Untuk mencegah keadaan bertambah buruk, pemerintah dan seluruh sektor masyarakat perlu memberikan perhatian dan tindakan terhadap keadaan ini.

Melalui UU No.16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framewok Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim), secara nasional Indonesia menyatakan komitmennya dalam pengurangan emisi gas rumah kaca guna menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengganti bahan bakar fosil menjadi FCV (Fuel Cell Vehicle) yang berbahan bakar dasar Hidrogen. Menurut Gallardo (2020), Hidrogen berpotensi menjadi bahan bakar energi terbarukan yang menjanjikan di masa depan.

Dalam program Net Zero Emissions Scenario yang digagas oleh Badan Energi Internasional (IEA), jumlah permintaan energi terbarukan Hidrogen untuk sektor industri diperkirakan akan meningkat 44% pada tahun 2030. Bahan bakar Hidrogen dapat dengan mudah diekstraksi dari bahan bakar fosil dan biomassa, dari molekul air, atau campuran keduanya. 

Gambar 1. Tingkat permintaan hidrogen secara global berdasarkan sektor dalam Net Zero Emissions Scenario tahun 2020-2030

Hidrogen dapat dihasilkan dari berbagai sumber daya serta merupakan hasil dari proses kimia lainnya. Berbagai metode ekstraksi hidrogen seperti metode steam reforming gas alam seperti gas metana atau bahan bakar fosil lain; batu bara dan minyak bumi. Sekitar 96% produksi hidrogen berasal dari bahan bakar fosil yang tak terbarukan, khususnya metana (Borgschulte, 2016). Namun, dampak penggunaan bahan bakar fosil ini menghasilkan hidrogen dengan tingkat kemurnian yang lebih rendah serta hasil samping berupa gas rumah kaca yang berbahaya (Holladay, 2009).

 Penutup

Salah satu alternatif pengganti produksi energi berbasis bahan bakar fosil adalah produksi hidrogen dari air yang ramah lingkungan. Metode produksi hidrogen yang ramah lingkungan dengan kemurnian tinggi (99,999%) dapat diperoleh dari elektrolisis air yang menghasilkan hidrogen dan oksigen murni (Kumar dan Himabindu, 2019). Dengan demikian, Hidrogen dianggap sebagai energi alternatif yang ideal karena jumlahnya yang tidak terbatas di alam dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Borgschulte, Andreas. (2016). The Hydrogen Grand Challenge. Front Energy.

Fitriana, dkk. (2017). Outlook Energi Indonesia 2017: Inisiatif Pengembangan Teknologi Energi Bersih. Jakarta: Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia BPPT.

Gallardo, F. I., dkk. (2020). A Techno-Economic Analysis of Solar Hydrogen Production by Electrolysis in the North of Chile and the Case of Exportation from Atacama Desert to Japan. Elsevier: Science Direct, hlm. 1-20.

Gani, dkk. (2020). Peluang Hidrogen Sebagai Bahan Bakar Alternatif di Indonesia. Al-Hikmah Journal for Religious Studies, 22(2).

Greenstone, M. & Fan, Q. C. (2019). Kualitas Udara Indonesia yang Memburuk dan Dampaknya terhadap Harapan Hidup. Air Quality Life Index (AQLI).

Hilmawan, dkk. (2021). Outlook Energi Indonesia 2021. Perspektif Teknologi Energi Indonesia: Tenaga Surya Untuk Penyediaan Energi Charging Station. Tangerang: Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi.

Holladay, J. D., dkk. (2009). An Overview of Hydrogen Production Technologies, Catal Today, 139, hlm. 244-260.

Kumar, Shiva S. dan Hibamindu, V. (2019). Hydrogen Production by PEM Water Electrolysis – A Review. Material Science for Energy Technology, 2, hlm. 442-454.  

Pratama, Riza. (2019). Efek Rumah Kaca Terhadap Bumi. Buletin Utama Teknik, 14(2).

Sumampouw, Oksfriani J. (2019). Perubahan Iklim dan Kesehatan Masyarakat. Sleman: Deepublish.

 






Komentar